Sejarah Indonesia hal 24 paket

Soal :
1.    Mengapa para ahli melakukan penelitian manusia purba banyak di bantaran sungai ?
2.    Jelaskan ciri dan mengapa hasil penelitian Dubois di Trinil disebut sebgai Pithecanthropus erectus (kera yang berjalan tegak) ?
3.    Menurut pendapat kamu, bagaimana manusia purba bisa menyebar ke wilayah Kepulauan Indonesia bahkan sampai ke luar wilayah Kepulauan bIndonesia ?
4.    Coba buatlah karya ilmiah (2-3 halaman) dengan tajuk, Sangiran Laboratorium Manusia Purba.
5.    Coba kamu inventarisir berbagai situs dan tinggalan manusia purba di daerahmu masing-masing.

Jawab :
1.    Para ahli melakukan penelitian manusia purba kebanyakan di wilayah bantaran sungai karena disaat zaman praaksara dulu, manusia purba hidup banyak bergantung  dengan alam, hidup tidak menetap, dimana ada makanan disanalah mereka berada (food gathering). Selain itu, sungai menyimpan banyak cadangan makanan dan di bantaran sungai juga bertanah subur sehingga banyak tumbuhan yang bisa hidup disana. Maka dari itu penelit
ian manusia purba
kebanyakan di bantaran sungai karena manusia purba bertempat tinggal di bantaran sungai.

2.    Hasil penelitian Dubois dinamakan Pithecanthropus erectus karena setelah direkonstruksi, fosil ini masih memiliki tanda-tanda kera seperti tengkorak yang sangat pendek tapi memanjang kebelakang, tulang kening sangat menonjol dan terdapat penyempitan yang sangat jelas di belakang mata yang menandakan otak belum berkembang

3.    Manusia purba bisa menyebar ke dalam wilayah Kepulauan Indonesia untuk mencari buruan dan makanan. Selain didorong oleh keinginan mencari makan, perpindahan itu juga dimaksudkan untuk menghindari fenomena alam yang belum stabil pada saat itu.

4.         Sangiran dijadikan laboratorium penelitian manusia purba dikarenakan banyak penemuan manusia purba jenis Pithecantropus Erectus, dan ditemukan fosil peninggalan manusia purba  dari 2,4 juta tahun silam. Tak hanya fosil manusia, tapi juga fosil berbagai binatang, alat produksi yang digunakan dan sebagainya. Hal ini berbeda dengan situs-situs manusi purba di Cina seperti Zhudian, Yuanmo dan Longhupa yang hanya menyajikan peninggalan purba kurang dari dua juta tahun. dan oleh karena itu didirikan museum purbakala Sangiran, Sangiran telah diakui oleh dunia sebagai situs penelitian manusia purba terlengkap oleh UNESCO. Tidak menutup kemungkinan Sangiran masih mengubur fosil-fosil manusia, itulah sebab Sangiran dijadikan laboratorium penelitian manusia purba.

5.    1) Kapak Perimbas Untuk menusuk binatang atau menggali tanah saat mencari umbi-umbian Pacitan,Jawa Timur.
2) Artefak dari tulang Digunakan sebagai alat penusuk atau belati saat berburu di  Ngandong dan Sidorejo.
3) Batu Pipihan Sebagat alat pipihan saat menumbuk atau menghaluskan di Sumatera Timur.
4) Kapak Persegi Sebagai alat pertanian saat memacul atauoun mencangkul di Sumatera, Jawa, dan Bali.
5) Batu Asahan Digunakan sebagai alat pengasah batu untuk membentuk atau memperhalus batu di Bogor.
6) Kapak Lonjong Digunakan sebagai perkakas dan senjata di Papua, Seram, Minahasa Sulawesi, Sangihe Talaud, Flores, Maluku, Leh, Tanimbar.
7) Dolmen Sebagai meja batu tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang di Telaga mukmin, Sumberjaya, Lampung Barat.
8) Menhir digunakan untuk tujuan religius dan memiliki makna simbolis sebagai sarana penyembahan arwah nenek moyang di Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah dan Kalimantan.
9) Peti  Batu Digunakan peti mayat yang terbuat dari batu-batu besar di Cepari Kuningan, Cirebon (Jawa Barat), Wonosari (Yogyakarta) dan Cepu (Jawa Timur).

10) Kapak Genggam Untuk menusuk hewan dan menggali saat bertani di Sumatera Timur.

Komentar