Soal :
1. Mengapa para ahli melakukan penelitian manusia purba banyak
di bantaran sungai ?
2. Jelaskan ciri dan mengapa hasil penelitian Dubois di Trinil
disebut sebgai Pithecanthropus erectus (kera yang berjalan tegak) ?
3. Menurut pendapat kamu, bagaimana manusia purba bisa
menyebar ke wilayah Kepulauan Indonesia bahkan sampai ke luar wilayah Kepulauan
bIndonesia ?
4. Coba buatlah karya ilmiah (2-3 halaman) dengan tajuk,
Sangiran Laboratorium Manusia Purba.
5. Coba kamu inventarisir berbagai situs dan tinggalan manusia
purba di daerahmu masing-masing.
Jawab :
1. Para ahli melakukan penelitian manusia purba kebanyakan di
wilayah bantaran sungai karena disaat zaman praaksara dulu, manusia purba hidup
banyak bergantung dengan alam, hidup
tidak menetap, dimana ada makanan disanalah mereka berada (food gathering).
Selain itu, sungai menyimpan banyak cadangan makanan dan di bantaran sungai
juga bertanah subur sehingga banyak tumbuhan yang bisa hidup disana. Maka dari
itu penelit
ian manusia purba
kebanyakan di bantaran sungai karena manusia purba bertempat tinggal di bantaran sungai.
ian manusia purba
kebanyakan di bantaran sungai karena manusia purba bertempat tinggal di bantaran sungai.
2. Hasil penelitian Dubois dinamakan Pithecanthropus erectus
karena setelah direkonstruksi, fosil ini masih memiliki tanda-tanda kera
seperti tengkorak yang sangat pendek tapi memanjang kebelakang, tulang kening
sangat menonjol dan terdapat penyempitan yang sangat jelas di belakang mata
yang menandakan otak belum berkembang
3. Manusia purba bisa menyebar ke dalam wilayah Kepulauan
Indonesia untuk mencari buruan dan makanan. Selain didorong oleh keinginan
mencari makan, perpindahan itu juga dimaksudkan untuk menghindari fenomena alam
yang belum stabil pada saat itu.
4. Sangiran
dijadikan laboratorium penelitian manusia purba dikarenakan banyak penemuan
manusia purba jenis Pithecantropus Erectus, dan ditemukan fosil peninggalan
manusia purba dari 2,4 juta tahun silam.
Tak hanya fosil manusia, tapi juga fosil berbagai binatang, alat produksi yang
digunakan dan sebagainya. Hal ini berbeda dengan situs-situs manusi purba di
Cina seperti Zhudian, Yuanmo dan Longhupa yang hanya menyajikan peninggalan
purba kurang dari dua juta tahun. dan oleh karena itu didirikan museum
purbakala Sangiran, Sangiran telah diakui oleh dunia sebagai situs penelitian
manusia purba terlengkap oleh UNESCO. Tidak menutup kemungkinan Sangiran masih
mengubur fosil-fosil manusia, itulah sebab Sangiran dijadikan laboratorium
penelitian manusia purba.
5. 1) Kapak Perimbas Untuk menusuk binatang atau menggali
tanah saat mencari umbi-umbian Pacitan,Jawa Timur.
2) Artefak dari tulang
Digunakan sebagai alat penusuk atau belati saat berburu di Ngandong dan Sidorejo.
3) Batu Pipihan Sebagat
alat pipihan saat menumbuk atau menghaluskan di Sumatera Timur.
4) Kapak Persegi
Sebagai alat pertanian saat memacul atauoun mencangkul di Sumatera, Jawa, dan
Bali.
5) Batu Asahan
Digunakan sebagai alat pengasah batu untuk membentuk atau memperhalus batu di
Bogor.
6) Kapak Lonjong
Digunakan sebagai perkakas dan senjata di Papua, Seram, Minahasa Sulawesi,
Sangihe Talaud, Flores, Maluku, Leh, Tanimbar.
7) Dolmen Sebagai meja
batu tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang di
Telaga mukmin, Sumberjaya, Lampung Barat.
8) Menhir digunakan
untuk tujuan religius dan memiliki makna simbolis sebagai sarana penyembahan
arwah nenek moyang di Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah dan Kalimantan.
9) Peti Batu Digunakan peti mayat yang terbuat dari
batu-batu besar di Cepari Kuningan, Cirebon (Jawa Barat), Wonosari (Yogyakarta)
dan Cepu (Jawa Timur).
10) Kapak Genggam Untuk
menusuk hewan dan menggali saat bertani di Sumatera Timur.
Komentar
Posting Komentar